MILESTONES GERAKAN KONSERVASI RBM “Kembali ke Lapangan” 

2010-2011 | Penanganan area terbuka dan perambahan

Pokja penanganan area terbuka dan perambahan dibentuk di pusat dan UPT.
30 personel UPT berkemampuan pemetaan dimobilisir untuk membantu membangun data awal.
Baseline pertama area terbuka di kawasan konservasi dibuat berdasarkan citra Alos Palsar 50m akuisisi th 2009. Terindikasi sekitar 2,7 juta ha dari 22 juta kawasan konservasi berupa tutupan non alami.
Situation Room pertama dibuat untuk membantu memantau pada beberapa site.
Sejumlah literatur diterbitkan sebagai strategi pewarisan value dan knowledge. Antara lain: Juknis penanganan area terbuka dan perambahan, Mengalir tanpa batas (Suhariyanto), Saatnya kami berdaulat (Ridwan Soleh et al),  Garuda- antara mitos dan Fakta (Zaini R), dan buku Raflesia di Sumatera.
Naskah dokumen pertama RBM disusun di CICO Bogor. Nilai RBM adalah “lapangan terkuasai, potensi termanfaatkan,  masalah terselesaikan

2011-2012 | Program RBM dilancarkan di Pusat

Pembelajaran kelola kawasan kepada TN Alas Purwo, TN Gunung Halimun Salak dan TN Karimun Jawa.
Hingga 2013, lebih dari 70 workshop diselenggarakan baik nasional maupun lokal untuk mensosialisasikan spirit RBM. Jaringan knowledge antar UPT secara alamiah terbangun melalui instruktur-instruktur yang berasal dari UPT.
Kajian sejarah kawasan konservasi dilakukan untuk menggali nilai-nilai. Didapat 4 pembelajaran yang bertumpu pada kata kunci “ke lapangan, riset, mencatat, bekerja sama”.
Literatur yang diterbitkan antara lain: Kalau tidak turun, nanti dimarahi Pak Kadus (kumpulan tulisan dari UPT), Koorders sang pelopor (Panji Yudisthira), Burung Baluran (Swis), Area terbuka dan perambahan di 12 provinsi prioritas, Solusi Jalan Tengah (Wiratno).

2012-2014 | Program RBM dilancarkan di UPT (kasus BBKSDA NTT)

KMK:  Flying team à profiling à Prioritizing.
Digagas konsep Kelola Minimal Kawasan (KMK) melalui flying team untuk merumuskan profil/tipologi kawasan dan menentukan prioritas di setiap kawasan (ada 28 site). Konsep ini adaptasi dari kebutuhan kelola kawasan harus berdasarkan fakta lapangan namun waktu terbatas dan kawasan terpencar.
Perangkat tallysheet standar dan aplikasi SIM dibangun untuk membantu menghimpun data-data lapangan.

Situation Room.
Situation Room dibangun untuk mengubah personal  knowledge to Corporate knowledge . Menjadi alat mengelola kawasan, sekaligus alat komunikasi kepada publik. Melalui Situation Room, kumpulan pengetahuan organisasi ini menjadi warisan kepada manajer berikutnya.

Konsep Tiga Pilar.
Dikembangkan dalam menyelesaikan konflik di Colol TWA Ruteng berdasarkan hipotesis bahwa “pengelolaan akan berhasil apabila pilar Adat, pilar Gereja dan pilar Pemerintah (pemkab dan BBKSDA) bersatu membangun “platform bersama”.
Riset sponge untuk material obat cancer di TWAL Teluk Kupang bekerja sama dengan Dr.Agus Triyanto, peneliti Marine Biologi_UNDIP.
Keduanya dinilai sebagai salah satu result yang mengkonkretkan spirit RBM.
Berdasarkan pembelajaran tersebut, “Daerah Penyangga” mulai menjadi istilah yang menyempurnakan spirit RBM.
Sejumlah karya literatur dihasilkan, antara lain: Kaleidoskop BBKSDA NTT, Colol- Membangun Upaya Damai dan Beradab dalam Kelola Kawasan Konservasi (Wiratno & Maman Surahman).

2014-2016 |

RBM tidak lagi menjadi program dalam Rencana Stategis 2015-2019, sehingga tidak memiliki media formal untuk proses pengawalan. RBM yang disosialisasikan sebelumnya, di UPT menjadi jargon dengan penafsiran yang beragam.

2016-2017 | Penanganan area terbuka dan konflik di kawasan konservasi diangkat kembali.

Role model menjadi kebijakan. Sejumlah UPT harus memilih satu kasus yang harus diselesaikan hingga akhir 2018.
Setiap UPT diwajibkan membangun Situation Room-nya dan mengimplementasikan RBM. Di Pusat Situation Room dibangun untuk menavigasi arah kelola seluruh kawasan.
Sebelumnya, Facebook menjadi alat untuk komunikasi perkembangan. Saat ini Group chat Whatsapp dimanfaatkan untuk media komunikasi sekaligus salah satu tool Sitroom.
Konsep Flying Team dan jargon bekerja di  5 Level.
Terminologi “masyarakat”, “ daerah penyangga”, “kerjasama” menjadi nafas yang kental .
Literatur yang diterbitkan: Buku RBM NTT (dicetak Dit KK, Agustus 2017)
Literatur yang sedang dalam proses: Tri Tugas Penjaga Hutan by Wiratno.

Catatan yang dapat menjadi potensial milestone:

  1. Inisiasi pembangunan Museum Konservasi Alam Nusantara
  2. Dokumentasikan best practice di berbagai site dalam bentuk menerbitkan buku.
  3. Meng-institusional-kan berbagai inovasi yang awalnya informal sehingga meresap menjadi budaya “Organisasi Pembelajar”.
  4. Me-regenerasi para penggiat dengan mengintensifkan kembali Jaringan Knowledge UPT sehingga dihasilkan para Local Champion.

Oleh Nurman Hakim

KONTAK

DIREKTORAT JENDERAL KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DAN EKOSISTEM, KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP & KEHUTANAN
Gedung Manggala Wanabakti Blok 1 LT.8
Jl. Gatot Subroto
Jakarta 10270
(021) 5730301
(021) 5733437

Sending

© copyright 2018 | Ir. Inung Wiratno M.Sc.

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account